4 Manfaat Latih Anak Berbahasa Daerah Sejak Dini

Indonesia merupakan negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini. Sejak 1991, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memetakan sebanyak 718 bahasa yang teridentifikasi.

Sayangnya, sebelas di antara bahasa daerah tersebut telah punah atau tidak ada lagi penuturnya. Sehingga, anak-anak perlu dipersiapkan untuk menjadi pewaris bahasa daerahnya masing-masing.

Mengenalkan anak pada bahasa daerah sejak dini menjadi salah satu cara melestarikan bahasa daerah. Plt. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dadang Sunendar, mengimbau para orang tua untuk mewariskan bahasa daerah ke anak-anaknya agar tetap lestari.

Menurutnya, bahasa daerah perlu digunakan anak-anak sejak kecil dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarganya. Hal ini dapat menjadi dasar bagi mereka memahami lingkungan sekitarnya selain sebagai sarana komunikasi.

 “Apabila seorang Indonesia mampu berbahasa Indonesia dengan baik, bertanggung jawab, tidak mudah termakan hoaks, melestarikan bahasa daerahnya, dan menguasai bahasa asing, Indonesia akan tetap tumbuh di dunia global,” ujar Dadang dalam rilis resmi Kemendikbud, Jumat (21/2/2020).

Namun, tak hanya sekadar untuk melestarikan bahasa daerah. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman, menambahkan kelestarian bahasa akan memperkokoh mutu manusia itu sendiri.

Menurut Arief, ada empat kekuatan bila anak dibiasakan untuk mengerti bahasa daerah sejak kecil, yakni:

1. Menguatkan rasa kekeluargaan

Mendapati orang lain mampu berbicara bahasa daerah yang sama akan menumbuhkan hubungan emosional lebih cepat, terutama dalam interaksi bersama anggota keluarga.

2. Mampu menumbuhkan toleransi

Mengenalkan anak bahasa daerah juga akan mengenalkan anak adanya bahasa daerah lain di Indonesia. Dengan begitu ia sudah diajarkan tentang perbedaan sejak kecil, sehingga orangtua akan lebih mudah mengajarkan anak tentang toleransi.

3. Saling mengenalkan satu dengan yang lain

Menguasai bahasa nasional sekaligus bahasa daerah umumnya membuat anak ingin juga mengenalkan bahasa daerahnya pada orang lain atau generasi penerusnya.

4. Menjaga perbedaan

Terbiasa berbahasa daerah membuat anak tak hanya belajar tentang perbedaan, namun juga pemahaman bahwa tak ada yang salah dengan perbedaan selama ada rasa saling menghargai dan menghormati.

Kemendikbud terus melakukan upaya pelindungan bahasa dan sastra di Indonesia sejak 1991 lalu. Dari 718 bahasa yang telah teridentifikasi atau terpetakan, 90 di antaranya telah dilakukan kajian berdasarkan status atau vitalitas bahasa. Sebanyak 21 bahasa dari jumlah tersebut telah terkonservasi dan 24 bahasa terevitalisasi serta 314 bahasa tervalidasi.

“Mudah-mudahan bahasa daerah tidak hanya dalam nyanyian saja tapi digunakan dalam keseharian kita,” ujar Arief.

Sumber: Kompas