5 Hal Ini Bisa Mengasah Keberanian Anak, No 5 Bisa Banget Tuh!

Menjadikan anak memiliki keberanian yang tangguh adalah satu dari target orang tua dalam perkembangan putra putrinya. Bagaimana tidak, keberanian adalah modal besar untuk membawa anak pada penyelesaian-penyelesaian masalah dengan tepat. Berani mengambil konsekuensi, berani bersikap, berani memberikan pendapat dan keberanian untuk teguh pada idealismenya adalah potensi besar yang harus ditumbuhkan pada diri anak. Tapi bagaimana supaya softskill ini bisa segera dimiliki oleh anak? Para orang tua perlu membaca dibawah ini.

  1. Asah Kejujurannya
    Anak boleh saja memiliki sikap berani, tapi keberanian yang dusta hanya mengantarkan pada petaka, maka anak wajib dikenalkan kepada nilai kejujuran. Kenapa harus jujur? Karena jujur adalah gerbang kepada banyaknya kebaikan, sedangkan dusta adalah gerbang pada kedustaan-kedustaan yang lain, dan yang demikian itu tidak akan mengantarkan kita kecuali kepada jurang kehinaan. Untuk apa kita berani bertindak, berani berucap, tapi yang kita tindak dan ucap hanya dusta semata. Untuk apa kita jadikan anak kita berani menanggung janji, yang padahal dia sendiri tak mampu mengembannya. Jujur dalam adalah helai yang sama yang harus dirajut bersama dengan keberanian.
  2. Pahamkan Kenapa Harus Berani
    Kenapa Anda ingin anak Anda berani? Apakah supaya dia tiidak direndahkan orang lain? Atau supaya dia mendapat pekerjaan sebagai leader? Atau supaya dia bisa memimpin teman-temannya? Atau apa? Alasan yang Anda bawa mempengaruhi cara Anda mendidik anak Anda. Sejatinya, hanya satu alasan yang harus dimiliki kenapa kita ingin anak kita menjadi pemberani, yakni hidup ini butuh orang-orang yang berani mempertahankan diri dalam hidup, bukan pecundang yang lari dari masalah hidup. Alasan yang kuat akan memberikan dorongan kepada Anda untuk memahamkan anak Anda dengan alasan yang sama. Ketika anak sudah memahami tujuan hidupnya, alasan kenapa dia hidup, maka dia pun akan terdorong untuk menjalani kehidupan yang mengantarkan pada tujuan dia hidup, dan itu semua butuh keberanian. Tanpa anak memahami kenapa dia harus berani, dia tetap akan terus merasa ragu untuk bertindak dan mengambil keputusan. Kenapa? Sebab tujuan hidup saja tidak punya, apalagi memahami kenapa harus mengambil sikap ini dan itu, tentu yang selalu muncul adalah rasa ragu, takut, mundur dan ciut. Anda tidak ingin anak Anda begitu bukan?
  3. Buat Study Kasus
    Nah, ini penting wahai para orang tua. Setelah Anda menyampaikan pada anak tentang teori ini dan itu, saatnya mempraktekkannya. Buatlah study kasus misal Anda berdiskusi dengan anak Anda, Anda menggambarkan sebuah masalah seperti, jika kita berada dalam sebuah kapal bersama ibu dan ayah, kemudian kapal itu tenggelam, lalu kamu punya kesempatan untuk menyelamatkan satu diantara kami, mana yang akan kamu selamatkan? Sejatinya jawaban dari anak tidaklah terlalu penting, entah ibu, ayah atau hanya dirinya yang selamat. Tapi yang patut dianalisa adalah cara dia mengambil sikap, apakah dia sungguh-sungguh memikirkan? Atau dia justru punya jawaban yang berbeda? Bagaimana dia menyampaikannya? Apakah dengan ketegasan atau dengan keragu-raguan? Nah, dari sini bisa dianalisa, sesungguhnya anak kita bertipe seperti apa, apakah dia anak yang punya idealisme bahwa dia harus menyelamatkan keduanya apapun yang terjadi. Atau dia tipe yang tidak berani mengambil resiko. Nah, itu adalah study kasus teori. Cobalah mengajaknya camping keluarga di sebuah campground, buat berbagai macam permainan yang mengasah potensi problem solving dan keberanian anak. Atau arahkah anak Anda pada kegiatan organisasi seperti OSIS, Pramuka, PMR dsb.
  4. Punya Idealisme
    Ini penting sekali. Idealisme harus ditanamkan dalam diri anak, sikap mana yang benar dan sikap mana yang salah, sehingga anak tau harus bersikap seperti apa. Ketika masalah datang, dia sudah punya ‘pakem’ harus membela yang mana. Karena sejatinya tidak ada orang yang netral, semua orang selalu punya kecenderungan. Maka anak pun juga harus memiliki kecenderungan yang benar.
  5. Berani Karena Benar, Berani Meminta Maaf Karena Salah
    Sejatinya, Berani dan Takut adalah hal fitrah yang ada dalam diri manusia. Tugas kita adalah menempatkan berani dan takut pada tempat yang tepat. Kalimat ini sekiranya perlu kita sampaikan kepada anak. Selama apa yang dia yakini adalah sebuah kebenaran, maka berani untuk menggenggamnya adalah suatu keharusan, teguh didalamnya adalah kepastian, walau arus menabraknya dia harus sekokoh karang, sebab yang dia genggam adalah kebenaran. Tapi berbeda ketika yang dia pegang adalah sebuah kesalahan, berani mengakui dan meminta maaf adalah ke-bersahaja-an, inilah level tinggi yang harus clear dalam benak anak, inilah sikap ksatria yang menjadi warisan bangsa kita. Keterbukaan menerima nasehat dan mengakui kesalahan kemudian meminta maaf adalah keberanian yang besar. 

Demikian 5 hal yang bisa kita sampaikan kepada anak untuk mengasah potensi keberanian mereka. Terima kasih sudah membaca.

Jangan lupa download aplikasi berprestasi ya!! Temukan guru yang tepat untukmu 😉 download appnya di google playstore.