5 Keuntungan Punya Pengalaman Organisasi saat Kuliah

Bila kamu beranggapan bahwa menjadi anggota organisasi seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) akan menghambat waktu belajar, justru aktif berorganisasi akan mengasah “skill” dan pengalaman yang bisa menjadi bekal saat melamar kerja nanti.

Walau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) menjadi tolak ukur kompetensi calon pelamar kerja, namun pengalaman organisasi kampus dapat menjadi poin yang turut mendongkrak nilai IPK.

Bukan tanpa alasan mengapa pihak HRD kerap menjadikan pengalaman organisasi ini menjadi salah satu pertimbangan saat menyeleksi karyawan khususnya para “fresh graduate”.

Inilah alasan mengapa pengalaman organisasi perlu kamu miliki selama masih menjadi mahasiswa.

1. Memperkaya pengalaman di CV

Aktif berorganisasi di kampus menunjukkan bahwa kamu berkontribusi untuk lingkungan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan organisasi. Kontribusi inilah yang dilihat oleh perusahaan, bahwa kamu melakukan sesuatu tak hanya karena ada balasan uang.

Selain itu, aktif berorganisasi akan mengasah kemampuan kamu mengatur waktu, antara mengerjakan tugas kuliah dan tugas organisasi. Kemampuan mengatur waktu ini juga menjadi nilai plus di mata perusahaan, terutama bila IPK yang didapat juga bagus.

Dengan berorganisasi, kamu juga dianggap terbiasa bekerja sama dengan orang lain (team work) untuk mencapai tujuan bersama. Kurang lebih, apa yang kamu kerjakan di organisasi akan sama dengan dunia kerja.

Sehingga pengalaman oraganisasi akan dianggap mirip dengan pengalaman kerja untuk para fresh graduate.

2. Memberi bekal soft skill gratis

Ada banyak pelatihan yang menawarkan sertifikat soft skills. Namun, kamu sangat mungkin mendapatkannya secara cuma-cuma melalui pengalaman berorganisasi.

Soft skills yang akan didapat antara lain kemampuan mengatur waktu, komunikasi, bekerja sama dengan orang lain, kemampuan adaptasi, kemampuan mengontrol diri dan sebagainya.

Kemampuan tersebut umumnya hanya dipelajari secara terori di kelas. Sedangkan di organisasi, kamu akan belajar mengaplikasikan teori tersebut dalam dunia nyata.

3. Kemampuan bersosialisasi teruji

Tak dipungkiri, banyak lulusan yang tak mampu bertahan di dunia kerja dengan alasan tak cocok dengan lingkungannya. Di organisasi, kamu lebih dulu dilatih untuk menghadapi banyak orang dengan beragam karakter.

Umumnya, pergantian orang atau kepemimpinan di suatu organisasi berjalan dengan cepat. Kamu akan bertemu banyak orang baru baik itu kakak, adik atau rekan satu angkatan.

Dengan bertemu banyak orang, tanpa sadar kamu akan belajar berinteraksi dengan orang baru yang memiliki latar belakang yang berbeda, usia berbeda, bahkan belajar bagaimana bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki sifat berbeda untuk mencapai tujuan bersama.

4. Mengenali bakat

Kegiatan organisasi dapat mengasah minat dan bakat yang kamu miliki. Misalnya, kamu memiliki bakat berinteraksi dengan orang banyak. Organisasi akan melatih kemampuan berdiskusi di depan banyak orang atau mengeluarkan pendapat secara efektif di depan banyak orang.

Bila kamu memiliki bakat di bidang fotografi, bergabung dengan organisasi fotografi bisa membantu kamu mengenal teknik-teknik foto yang baik, pemilihan kamera, hingga memberikan info seputar pekerjaan di dunia fotografi yang bisa dilakukan mahasiswa.

5. Lebih banyak praktek ketimbang teori

Ketika belajar di ruang kelas, sekitar delapan puluh persen hal yang akan dibahas ialah teori. Sedangkan, ketika kamu berorganisasi, delapan puluh persennya ialah hal-hal yang bersifat praktik. Sehingga kemampuan berteori dan praktik akan menjadi seimbang.

Saat di dunia kerja, kemampuan mewujudkan teori menjadi eksekusi adalah kemampuan yang dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Organisasi akan membuat kamu memiliki kemampuan tersebut.

Sumber: Kompas