Bukan Dimarahi, Ini Cara Mendidik Anak Saat Berkelahi atau Menyakiti Teman

Beberapa waktu belakangan, kekerasan di kalangan pelajar begitu nyaring terdengar, mulai dari tawuran hingga aksi klitih Yogyakarta. Walau menimbulkan keresahan, namun aksi-aksi tersebut sangat mungkin dikendalikan bila sejak kecil anak dibekali ruang untuk melepas emosi.

Merangkum dari laman resmi Sehabat Keluarga Kemendikbud, tindakan agresif saat remaja tersebut bisa dipicu dari bagaimana orangtua merespon prilaku agresif anak sejak ia masih kecil.

Saat tindakan agresif anak terus dimaklumi (karena menganggap anak masih kecil), atau justru orangtua meresponnya dengan tindakan agresif juga (balas memarahi dan melalukan tindakan fisik seperti mencubit atau memukul), itulah yang akhirnya membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang suka menyerang dan menyakiti orang lain.

Itu sebabnya, orangtua dan guru perlu melakukan langkah efektif saat anak menunjukkan sikap agresif di rumah maupun di sekolah.

Diharapkan, saat remaja dan dewasa, mereka dapat menuangkan emosinya dalam panggung yang lebih positif, alih-alih melampiaskannya dalam bentuk tawuran atau tindak kekerasan.

Tak ada niat menyakiti

Saat anak masih usia balita hingga sekolah dasar, sikap agresif biasanya dipicu oleh beberapa faktor, seperti rasa cemburu, marah, gemas, bentuk pembelaan ataupun rasa iseng yang tiba-tiba masuk ke dalam dirinya.

Bisa juga akibat banyaknya tontonan televisi yang memerlihatkan adegan pertarungan. Sehingga anak dengan mudah meniru tindakan tersebut. Salah satu tindak agresivisme yang sering dilakukan anak-anak adalah menjambak rambut teman atau memukul.

Walau begitu, anak-anak sebenarnya tidak 100 persen ingin menyakiti temannya, melainkan sebagai bentuk ekspresi emosi. Sehingga, bentuk ekspresi emosi inilah yang perlu diarahkan oleh orang tua. Bahwa marah atau kesal sangat boleh dirasakan, namun cara mengekspresikannya harus benar.

Berikut beberapa hal yang dapat orangtua dan guru lakukan saat anak sering “menyakiti” temannya, merangkum Sahabat Keluarga Kemendikbud.

1. Dengar alasan anak

Tanyakan alasan anak mengapa ia melakukan tindakan tersebut. Pastikan melihatnya dari sudut pandang anak bahwa anak-anak maupun orang dewasa tidak akan melakukan tindak kejahatan ataupun agresif tanpa adanya alasan.

Dengarkan alasan anak dan terima apa yang dirasakannya, misal dengan berkata “iya, kamu kesal ya.” Dengan begitu anak merasa di dengar, emosinya pun menjadi reda.

2. Beri pemahaman, bukan kemarahan

Setelah menerima perasaan anak dan emosinya mereda, lanjutkan dengan memberi pemahaman bahwa itu merupakan tindakan yang tidak baik. Katakan dengan nada lembut, bukan berupa amarah.

Semisal, anak menjambak karena temannya merebut mainan. Orangtua dan guru dapat memberi tahu anak bahwa permasalahan itu dapat diselesaikan dengan bicara baik-baik tanpa adanya kekerasan. Cara lain dalam memberi pemahaman dan dapat pula dengan mencontohkan langsung pada anak.

Anda dapat menarik lembut atau sehelai rambut pada anak, dan menanyakan kepada mereka bagaimana rasanya. Saat mereka menjawab sakit, secara tidak langsung anak akan belajar bahwa apa yang dilakukan kepada temannya bukanlah hal yang benar.

3. Ajak anak mengeluarkan lewat kata-kata

Langkah selanjutnya, ajari anak mengungkapkan keinginan lewat kata-kata. Ini merupakan hal dasar yang harus orangtua ajarkan kepada anak-anak terutama dalam mencegah tindakan agresivisme pada usia dini.

Dengan mengajarkan kebiasaan seperti ini, anak akan terbiasa menyelesaikan permasalahannya dengan cara membicarakan atau mengungkapkan permasalahan tersebut dengan kata-kata tanpa harus bertindak agresif.

4. Bangga dan kecewa

Ketimbang memarahi anak, orangtua bisa mengungkapkan rasa kecewa terhadap perilaku buruknya di luar rumah, katakanlah bahwa Anda kecewa dan sedih dengan sikapnya. Dengan begitu anak akan belajar memahami perasaan orang lain.

Begitu juga sebaliknya, saat anak berperilaku baik katakanlah bahwa Anda senang dan bangga dengan mereka. Perbedaan respon ini akan membuat anak lebih mengerti sikap-sikap mana saja yang membahagiakan orangtua atau sebaliknya.

5. Sanksi sosial

Bila anak masih melakukan tindakan agresif, katakan kepada anak bahwa besok mungkin tak ada yang mau berteman dengannya. Karena setiap orang tidak ada yang ingin memiliki teman yang suka menyakiti satu sama lain.

Namun, bila anak justru menjadi “korban” tindakan agresif temannya, janganlah sekali-kali menyuruh anak untuk membalas teman. Sebab, secara tidak langsung Anda mengajarkan sikap balas dendam terhadap anak sekaligus membolehkan melakukan kekerasan.

Sumber: Kompas.com