Curhat Murid: Nggak Rindu Sekolah Tapi…

Ini tahun keduaku duduk di bangku SMA. Senin ini (4/1) semester 2 bakal mulai. Sempat ada kabar, sekolah tatap muka mau dibuka lagi, walaupun baru fifty-fifty dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Tapi hari ini (2/1) semua itu dianulir, seenggaknya untuk Jakarta.

Berita tentang batalnya sekolah tatap muka ini jelas bikin rame grup kelasku. Emoticon nangis lah, umpatan anak-anak yang disensor sendiri pakai lambang bintang, atau gambar quote bijak dari ketua kelas yang asal comot dari Google, tapi nggak nyambung.

John W. Gardner bapaknya siapa juga nggak tahu tuh ketua kelas.

Sobat koploku, sebut aja Jerry, reply di gambarnya pakai bahasa Jawa, “Ndasmu kene tak busek e.” Buat yang nggak paham bahasa Jawa, kurang-lebih artinya begini, đầu vai đầu gối ngón chân đầu gối ngón chân.

Anyway, nama-nama yang disebut di sini itu samaran semua ya.

Mayoritas temen-temen kelas kesel karena gagal ketemu dan belajar bareng-bareng. Iya, mayoritas. Karena mungkin cuma aku yang nggak merasa begitu.

Ngomong-ngomong, sekolahku salah satu SMA Negeri terfavorit di Surabaya. Tahu sendiri kan, sebelum masa pandemi di sekolah macam penjara gini tiap hari tugas menumpuk nggak aturan. Apalagi setelahnya, duh banyak banget.

Kayak sekolahku ini nggak terima gitu, buat ngebiarin murid-muridnya merasakan kemerdekaan dari beban pendidikan.

Biasanya aku cuma mengandalkan beberapa aplikasi belajar buat selesaikan tugas yang nggak habis-habis. Pakai fitur yang berbayar sekalian nggak masalah. Yang penting nggak lama-lama garap tugas. Time is money, bro. Uang dibayar dengan uang.

Ini baru kalimat bijak di waktu yang bener.

Walaupun tugas banyak, tapi jujur aja aku emang masih lebih suka belajar di rumah. Bukannya nggak mau keadaan balik normal. Bukan juga nggak pingin ketemu teman-teman. Tapi ada beberapa alasan yang membuatku lebih nyaman begini.

Alasan pertama, guru di sekolah itu mengajar dengan waktu terbatas. Mata pelajarannya juga banyak. Belum lagi kena diskusi kelompok. Rasanya malah wasting time. Iya kalau teman sekelompok ngerti. Lah ini diskusi juga pada geleng-geleng.

Lagipula, aku memang suka mendalam kalau belajar. Tipe spesialis, kata Rena temen bangku seberang. Yang suka lempar penghapus karet terus ngomong bisik-bisik supaya aku nggak ngantuk di depan guru yang lagi jelasin materi.

Versinya anak-anak, doi naksir sama aku. Anaknya pintar, nggak cantik-cantik banget, tapi putih plus chubby. Model-model Sarah Vilo si gamer kekinian. Terutama karena kacamatanya yang tebal.

Tapi… Ya gitulah, aku nggak tahu juga kabar anak-anak itu benar atau cuma gosip ecek-ecek.

Lumayan mirip sih dari samping, cuma si Rena rambutnya berombak

Selain itu, alasanku jarang banget balas chat Rena juga jadi alasan keduaku untuk lebih suka belajar di rumah. Itu karena si Melissa, mantanku. Yang nggak pernah lagi aku sapa dan menyapaku. Di dunia nyata maupun maya. Nggak tahu, awkward aja.

Dibanding Rena, Melissa ini beneran cantik. Idola semua lapisan sekolah. Murid cowok, cewek, kakak kelas, guru-guru, penjaga kantin, semuanya lah. Doi juga pintar, dan anaknya emang kalem. Cuma ya gitu, kalo ngambek diemnya berhari-hari.

Fyi, dia anak kelas sebelah. Sayangnya, kelasku ada di ujung lorong buntu. Yang mana, itu bikin aku harus lewat depan kelasnya setiap mau ke mana-mana. Eh nggak juga sih, sebenernya ada tangga naik ke atas. Tapi aku juga nggak mau lewat situ.

Masalahnya, ada dua kakak kelas yang kayaknya benci banget sama mukaku. Satunya anak futsal yang awal tahun 2020 kemarin ini dua kali kegeprek bola hasil tendanganku. Sekali di perut, sekali di kepala. Lah gimana, dia kan kiper, ya resikonya lah.

Satu lagi, kakak kelas yang naksir berat sama Rena, tapi nggak pernah ditanggapi. Pernah waktu aku lagi ngobrol sama Rena di kantin terus si kakak kelas lihat kita. Dengan raut yang gusar banget, tiba-tiba dia tendang tong sampah gede di depannya. Kenceng banget.

Dia balik badan, lalu pergi. Sambil pincang. Sukurin.

Terus kenapa aku nggak mau naik tangga? Karena keduanya di kelas yang sama. Di sebelah tangga ke lantai dua. Jadi tiap istirahat mau keluar kelas, kayak ngerjain pilihan ganda:

a. Belok kiri, sakit hati

b. Naik tangga, sakit ulu hati

c. Diem di kelas, sakit lambung

d. Nggak tahu mau ngapain, sakit mental

Tahun ajaran lalu, aku sekelas sama Melissa. Dari awal sekolah kudeketin terus, Oktober jadian. Sayangnya, gara-gara aku sering ninggal dia buat menulis, kita cuma bertahan 3 bulan.

Aku emang jadi ghost writer di beberapa situs. Beberapa kali hasil sketch-ku juga masuk buat tambahan ilustrasi tulisan. Lumayan buat jajan, update fashion, juga untuk fitur berbayar aplikasi belajar buat nugas, sisanya ditabung.

Waktu awal-awal masih sering keluar bareng Melissa. Makan, nonton, jalan-jalan, atau nugas di coffee shop. Bulan berikutnya, si Joni tetanggaku yang kasih job mulai ngomel karena garapan banyak yang telat. Tulisan nggak memenuhi syarat jumlah kata, juga nggak fokus.

Bulan-bulan berikutnya aku habisin waktu sama Melissa di coffee shop terus, tapi sambil menghadap laptop. Sebelum garapan kelar, Melissa kugubris sedapatnya. Cuma iya-enggak aja tiap kali diminta tanggapan. Abis harus fokus nulis, biar Joni nggak rewel.

(Ilustrasi semata. Lebih mirip sama editor daripada narasumber. Tertanda, editor)

Deadline aman, eh Melissa yang ngambek akut. Di kelas jadi cuek, dihubungin jawab sekenanya. Duh, kalau tulisanku nggak bagus aku juga nggak bisa bayarin makan dia, tiket bioskop, kasih surprise, banyak lah.

Juga, apa kabar tugas-tugas sekontainer, kalau nggak ada guru-guru les yang bisa dibayar buat bantu garap?

Aku bukan anak orang berpunya. Bapakku pensiunan PNS, uang pensiunnya banyak kemakan resepsi pernikahan mbak Dini, kakak perempuanku. Ibu punya toko sembako, tapi ya cuma cukup buat sehari-hari. Mbak Dini kadang transfer buat uang tabungan.

Jadi, ya gitulah. Kadang kita memang harus memilih opsi terbatas yang ada di depan mata aja. Sempet iri, jujur aja, sama anak-anak yang ke mana-mana bawa mobil pemberian orang tua. Tapi cuma kependem dalam hati. Untungnya mereka orangnya asyik semua.

Sebenarnya, ada rindunya juga sama sekolah. Anak-anak emang asyik buat seru-seruan. Gorengan ibu kantin juga enak dimakan panas-panas sama kopi susu. Penghapus-penghapusnya Rena yang aku pungutin tiap kali dilempar dan numpuk di kantong tasku, juga bikin nostalgia.

Atau mungkin, aku emang lagi kangen aja, Mel.

Kualihkan pandangan ke kertas bergambar yang tergantung di dinding. Itu sketch bergambar Melissa, tapi belum selesai. Waktu masih sama dia, tiap mau tidur selalu aku garap. Maksudku sih supaya pas selesai bisa jadi surprise.

Di tanggal yang sama dengan terakhir kita berdua ngobrol ini, aku coba mengumpulkan niat buat lanjutin sketching. Aku coba cari drawing pencil-ku di meja belajar, nggak ada. Ku cek ke laci-laci, juga nihil. Kubongkar tas, barangkali ada di sana.

Tapi, yang ada cuma tumpukan penghapus.

2 Januari 2020.

(Ditulis oleh narasumber. Tertanda, editor)