Filosofi Teras: Cara Alternatif Kendalikan Emosimu

Kita semua tentu pernah dihadapkan dengan perasaan-perasaan yang tidak menentu ketika menghadapi suatu hal yang tidak sesuai rencana. Coba terapkan Filosofi teras!

Let’s say, ketika berhadapan dengan situasi kemacetan lalu lintas. Secara tidak sadar, kita terkadang merespon kemacetan lalu lintas dengan negatif. Entah dalam bentuk kemarahan, jengkel dan emosi negatif lainnya.

Nah, di sinilah Filosofi Teras berperan. Filosofi Teras dapat menjadi alternatif untuk mengendalikan emosi yang kita miliki, terutama dalam mengelola emosi negatif.

Filosofi teras merupakan istilah yang lebih sederhana dari istilah aslinya, yaitu Filosofi Stoa atau “Stoisisme”.

Filosofi teras berasal dari filsafat Yuniani-Romawi Kuno dan telah ada sekitar 300 tahun yang lalu. Filosofi teras muncul dan dikembangkan oleh Zeno. Zeno merupakan seorang saudagar kaya di sebuah pulau.

Dalam suatu perjalanan saat berdagang, kapal yang ia gunakan karam di lautan Mediterania. Dagangan yang ia akan pasarkan pun tenggelam dalam lautan. Untungnya, dirinya masih terselematkan dan terdampar di sebuah wilayah, yang kini kita kenal bernama Athena.

Ketika mengelilingi Athena, Zeno berkunjung dalam sebuah toko buku dan mulai menemukan ketertarikan pada buku-buku filsafat. Ilmu-ilmu yang ia miliki pun bertambah, khususnya pada ilmu filsafat.

Sejak saat itulah, Zeno menemukan filsafat yang ia berhasil kembangkan sendiri berdasarkan pemikirannya. Ia mengajarkan pemikiran-pemikirannya tersebut kepada pengikutnya di teras-teras yang memiliki tiang. Di mana, tiang dalam bahasa Yunani disebut dengan Stoa.

Karena hal tersebutlah, filosofi stosisme disebut juga sebagai filosofi teras.

Terdapat 2 hal utama yang perlu ditekankan pada filosofi teras, yaitu hidup bebas dari emosi negatif dan upaya untuk mengasah kebajikan. Ketika kita dihadapkan dalam kondisi yang tidak kita inginkan, sebisa mungkin kita mengelola dan mengendalikan emosi negatif yang kita miliki tersebut.

Oleh karena itulah, filosofi teras dapat dikatakan pula sebagai cara alternatif untuk mengendalikan emosi. Dalam filosofi teras, emosi negatif yang datang menghampiri pikiran kita merupakan sesuatu yang sia-sia.

Bagaimana caranya? Apakah mengelola dan mengendalikan emosi negatif itu mudah dilakukan?

  • Filosofi teras dapat menjadi pilihan yang tepat untuk mengelola dan mengendalikan emosi negatif. Caranya adalah dengan menerapkan metode STAR. STAR merupakan singkatan dari Stop, Thinking & Assess, Respond.
  • Ketika merasa mempunyai emosi negatif, kita harus segera menghentikan emosi tersebut. STOP.
  • Setelah menghentikan emosi negatif tersebut dengan sadar, kita dapat mulai berfikir secara rasional dan melanjutkannya ke tahap THINK AND ASSESS (penilaian). Pada tahap ini, diharapkan kita dapat memisahkan antara fakta dan interpretasi terhadap suatu hal.
  • RESPOND. Jika telah berhasil memisahkan antara fakta dan interpretasi, maka langkah selanjutnya adalah merespon hasil penialain yang telah dilakukan sebelumnya berdasarkan nalar.

Bagaimana cara menerapkan metode STAR? Agar lebih mudah, kita coba terapkan dalam kasus seperti di bawah ini.

Andi pergi jalan-jalan bersama keluarganya menggunakan mobil pribadi pada hari sabtu siang. Cuaca yang terik ditambah hari weekend, membuat suasana jalanan ramai. Beberapa ruas jalan mengalami kepadatan kendaraan hingga Andi dan keluarganya yang berada dalam satu mobil yang sama terjebak dalam kemacetan.

Saat terjebak kemacetan tersebutlah, Andi mulai cemas dan menggerutu (emosi negatif). Ia merasa menyesal karena mengajak keluarganya pergi jalan-jalan dan malah terjebak kemacetan selama berjam-jam. Seketika ia mengingat metode STAR dalam filosofi teras yang seharusnya dapat ia terapkan dalam kondisi seperti itu.                

Mula-mula, Anda menghentikan perasaan cemas (Stop), berhenti untuk menggerutu dan menyudahi perasaan penyesalan yang dialaminya. Andi mulai mencoba berfikir dan menilai. Bahwa saat ini, dirinya sedang terjebak kemacetan dan ia harus menghadapinya. Keinginannya untuk pergi jalan-jalan bersama keluarga harus terhambat di perjalanan (Think and Asses).

Oleh karena itu, sudah seharusnya Andi menerima kondisi tersebut dan fokus untuk melewati kemacetan hingga sampai di tempat tujuan bersama dengan keluarganya (Respon).

Tidak seharusnya, kita menyalahkan kondisi yang telah terjadi, karena menurut pandangan filosofi teras, Hal tersebut membuang-buang waktu dan sebaiknya energi serta emosi kita alokasikan pada hal-hal yang lebih positif

Lebih baik, kita jadikan pengalaman yang baru saja dialami sebagai pembelajaran agar tidak terulang kembali di masa depan.

Mengimplementasikan filosofi teras dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang mudah. Mengapa tidak mudah? karena butuh waktu dan kesadaran untuk melaksanakan STAR ketika emosi negatif datang berubah menjadi positif.

Kita hanya harus mengupayakan pemikiran positif dan berusaha melakukannya secara konsisten. Niscaya, ketika kita dilanda emosi negatif, kita dapat dengan sigap mengatasinya.

Jadi, gimana gaes? Tertarikkah kalian mempelajari dan menerapkan lebih dalam mengenai filosori teras untuk mengurangi tingkat kecemasan serta emosi negatif yang kerap menghampiri dirimu?